Covid di indonesia Bisa Berakhir, Masyarakat Harus Patuhi protokol

Covid di indonesia Bisa Berakhir, Masyarakat Harus Patuhi protokol

Covid di indonesia Bisa Berakhir, Masyarakat Harus Patuhi protokol

Covid di indonesia Bisa Berakhir, Masyarakat Harus Patuhi protokol – Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmitomeminta masyarakat untuk terus mematuhi protokol kesehatan pencegahan virus corona (Covid-19). Menurutnya, itu perlu dilakukan ketimbang bertanya kapan pandemi akibat Covid-19 berakhir.

“Jangan tanyakan kapan pandemi akan Berakhir, tapi tanyakan pada diri kita kapan bisa disiplin pakai masker jaga jarak dan cuci tangan. Kami yakin Indonesia bisa,” kata Wiku saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Selasa.

Wiku menegaskan bahwa virus corona merupakan virus yang ganas dan sangat berbahaya. Tidak pandang usia dan tidak pandang identitas, sehingga bisa menginfeksi siapa pun.

Sementara secara terpisah diperoleh dengan model Probabilistic Data Driven Model Covid-19, Indonesia diperoleh  pandemi akan berpuncak di akhir Juli sampai Akhir Agustus 2020 dan berakhir di akhir Februari 2021 dengan estimasi total kasus positif disekitar 227 ribu penderita. Lebih lanjut, dari pantauan terlihat bahwa angka penularan (Rt) masih di atas 1 yakni bernilai 1.08 pada tanggal 17 Juli 2020.

Berdasar prediksi tersebut, Dedi menyampaikan beberapa catatan penting yang perlu menjadi perhatian bersama pada saat ini. Pertama, angka perhitungan Rt Covid-19 Indonesia dalam beberapa hari terakhir masih disekitar 1.08. Angka ini menunjukkan secara nasional masih harus diwaspadai adanya penularan lokal dibeberapa wilayah provinsi atau kabupaten yang menjadi episenter penyebaran covid 19.

Masyarakat indonesia harus optimis

Berikutnya, melihat situasi di beberapa negara dunia seperti Jepang, Australia, Maroko, Yunani, Hongkong, Kroasia, Israel terlihat kemunculan pola gelombang kedua dari kasus positif covid setelah dilakukan relaksasi dari kebijakan lock down. Pola ini belum terlihat untuk negara Indonesia. Namun di Indonesia, terlihat adanya peningkatan jumlah penambahan pasien harian (insidensi) dibandingkan masa sebelum dilakukannya era adaptasi kebiasaan baru.

Tak hanya itu, perlu dilakukan pengendalian penyebaran secara lebih optimal di epicenter utama di Indonesia yakni Jawa Timur, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, serta Kalimantan Selatan. Langkah pengendalian yang dimaksud dengan lebih menggencarkan Tracing, Test & Treatment (3T) seiring dengan pendisiplinan masyarakat.

“Pengendalian provinsi-provinsi lain yang berpotensi membahayakan seperti Jawa Tengah, Sumatera Utara, Bali, Sumatera Selatan dan Papua perlu dioptimalkan agar Indonesia dapat semakin optimis menatap ke depan,”tandasnya.