Fakta dari Xenotransplantasi, Pencangkokan Organ Hewan ke Manusia

Fakta dari Xenotransplantasi

Fakta dari Xenotransplantasi – Bukan hal yang aneh ketika kita mendengar adanya donor organ. Mulai dari ginjal, mata, pankreas, sumsum tulang belakang hingga bagian-bagian lain pun bisa didonorkan ke orang lain. Namun, apa jadinya jika organ yang didonorkan adalah organ tubuh dari hewan? What do you think?

Baca juga : Samsung Galaxy S20 Series Bantu Berikan Tips Sehat

Mari berkenalan dengan xenotransplantasi, prosedur medis yang melibatkan transplantasi dari hewan ke manusia. Let’s get closer!

Apa itu Xenotranslantasi

Mari berkenalan dengan xenotransplantasi terlebih dahulu. Ini adalah prosedur medis yang melibatkan transplantasi, implantasi dan infus ke penerima manusia baik dalam bentuk sel hidup, jaringan atau organ dari hewan, ungkap Food & Drug Administration (FDA).

Xenotransplantasi dikembangkan karena adanya permintaan organ manusia yang sangat tinggi dan melebihi pasokan yang ada. Di Amerika, 10 pasien meninggal setiap harinya saat berada dalam daftar tunggu untuk menerima transplantasi organ vital yang bisa menyelamatkan nyawa mereka.

Sejarah Awal Xenotransplantasi

Berbicara soal sejarah, rupanya xenotransplantasi bukan hal baru. Buktinya, ada transfusi darah dari hewan ke manusia yang dilakukan di Inggris dan Prancis dari awal abad ke-17. Ini adalah yang pertama di bidang xenotransplantasi. Di abad 20, ada transplantasi organ padat dari hewan ke manusia, jelas Journal of the Royal Society of Medicine.

Adanya catatan pasien yang bertahan hidup hingga sembilan bulan setelah transplantasi ginjal dari simpanse. Sebaliknya, transplantasi organ dari non-primata menunjukkan sedikit keberhasilan. Ini karena primata adalah hewan yang memiliki kedekatan genetik dan DNA yang hampir mirip dengan manusia dibanding dengan hewan lain.

Plus Minus Xenotransplantasi?

Lantas, apa plus minus dari xenotransplantasi? FDA menyebut bahwa transplantasi sel dan jaringan dari hewan bisa menjadi terapi untuk penyakit tertentu, seperti gangguan neurodegeneratif dan diabetes. Selain itu, xenotransplantasi bisa mencegah kematian manusia akibat menunggu organ yang tersedia.

Meski potensinya besar, xenotransplantasi menimbulkan kekhawatiran terkena infeksi dan kemungkinan menularkan berbagai penyakit. Selain itu, ada potensi infeksi lintas spesies oleh retrovirus dan bisa menyebabkan penyakit bertahun-tahun setelah terinfeksi. Maka dari itu, masih dilakukan penelitian dan riset lebih lanjut tentang xenotransplantasi.

Mengapa Babi Dianggap Cocok?

Dari sekian banyak spesies hewan, babi dianggap sebagai pendonor paling cocok untuk manusia. Mengapa bukan primata seperti simpanse, yang memiliki kedekatan DNA hingga 98 persen? Rupanya, primata lebih berisiko membawa virus yang dapat menginfeksi manusia daripada hewan lainnya, seperti HIV, virus yang bertanggung jawab untuk penyakit AIDS, ungkap laman The Conversation.

Di sisi lain, babi umumnya dibesarkan di peternakan yang bersih dan kesehatannya terkontrol, sehingga risiko infeksi dari babi lebih rendah dari primata. Selain itu, sebagian besar organ babi bekerja dengan baik pada manusia. Organ-organ babi juga memiliki kemiripan dengan organ pada tubuh manusia.

Pro Kontra Xenotransplantasi

Xenotransplantasi sering disebut sebagai salah satu revolusi di dunia medis. Selain itu, terdapat kebutuhan tinggi terhadap organ donor. Di tahun 2017, ada 115.759 pasien dalam daftar tunggu di Amerika Serikat, sebagian di antaranya meninggal saat menunggu organ. Menggunakan organ hewan akan mengurangi waktu tunggu dan mencegah kematian.

Namun, di sisi lain, ada masalah etika seputar penggunaan organ hewan untuk manusia. Sebagian orang mempermasalahkan tentang risiko penyakit dan infeksi yang bisa ditularkan. Maka dari itu, butuh penelitian yang lebih dalam sebelum xenotransplantasi dilakukan secara masif di dunia medis.

Sumber : idntimes.com