Mengapa Banyak Pedagang Dadakan Selama Pandemi Corona

Mengapa Banyak Pedagang Dadakan Selama Pandemi Corona

Mengapa Banyak Pedagang Dadakan Selama Pandemi Corona

Mengapa Banyak Pedagang Dadakan Selama Pandemi Corona – Dimasa  pandemi  membuat banyak masyarakat memilih untuk berjualan agar tetap memiliki penghasilan. Apakah ini akan bertahan lama?

Seperti yang di katakan guru besar Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Dr Bagong Suyanto mengatakan, banyak pedagang dadakan Aplikasi S128 Apk kualifikasi karena merupakan sektor informal.

“Pergeseran okupansi itu sudah biasa. Ketika orang mengalami musibah seperti korban PHK, usahanya bangkrut atau lainnya, itu melakukan pergeseran okupansi, mata pencaharian mereka akan berubah. Nah kenapa yang dipilih sektor perdagangan? Kalau menurut saya sektor ini bagian dari sektor yang sifatnya informal, yang tidak mensyaratkan kualifikasi khusus terhadap orang di dalamnya. Kan beda kalau di bidang formal kan diminta ijazah dan lain sebagainya,” papar Bagong di Surabaya, Senin.

Bukan hanya itu, Bagong menilai banyak yang memilih mencari Rupiah dengan cara berdagang, karena sektor ini terbuka dan bisa menampung siapa pun. Yang penting, pedagang harus memiliki modal dan tekad dalam berbisnis.

Bagong juga menyebut, berdagang kerap dipilih masyarakat sebagai langkah untuk bertahan hidup. Namun dia meyakini hal ini tak akan bertahan lama.

“Dagang ini kan adalah cara-cara untuk memperpanjang napas, yang penting dapat uang cash terlebih dahulu dan dipakai untuk keluarganya. Tapi itu saya yakin bukan usaha yang permanen,” ujar Bagong.

Orang kan berpikir asal ada gantungan sementara, ini kan sektor yang realistis diraih, karena sifatnya itu fleksibel. Tapi apakah hal semacam ini bisa untuk menggantungkan hidup? Itu memang jadi pertanyaan besar. Saat ini kan orang berpikirnya bagaimana cara untuk bertahan hidup sampai vaksin ketemu lalu. ekonomi pulih kembali,” jelasnya.

Selain tak bertahan lama, Bagong menyebut jika tak dipersiapkan secara matang, banyak juga pedagang yang akhirnya gulung tikar. Karena kompetisi akan semakin ketat hingga menumbuhkan proses seleksi alam.

#Pendemi dan kewajiban

“Kalau saya lihat akan silih berganti, kadang sebulan aja udah bangkrut, karena dagang itu juga tak mudah, apa lagi kalau mereka bukan dari intuisi bisnis. Ini saya lihat banyak jualan masker, yang lainnya nyontoh dengan naik sepeda motor, saya lihat yang beli juga jarang. Akhirnya kan ada kompetisi yang makin ketat, ini saya kira akan ada proses seleksi alamiah,” tambahnya.

Di kesempatan yang sama, Bagong berpesan pada masyarakat untuk senantiasa menabung. Hal ini penting dalam menghadapi berbagai keadaan penting, seperti pandemi COVID-19.

“Kalau pelajaran terpenting efek dari COVID-19 ini, itu belajar arti menabung, itu pelajaran terpenting. Kan studinya bank dunia kan yang terkena dampak ini bukan hanya kalangan miskin saja, tapi juga menengah juga terkena. Orang yang dulu gajinya Rp 15 sampai Rp 20 juta tapi uangnya pas-pasan untuk nyicil mobil, rumah, SPP anaknya untuk makan dan tidak punya tabungan akan terasa di massa pandemi ini. Mereka sama halnya orang miskin yang tidak punya apa-apa. Makanya orang harus belajar arti penting menabung,” pungkas Bagong