Mengenal Obat Carrimycin yang Digunakan

Mengenal Obat Carrimycin yang Digunakan

Mengenal Obat Carrimycin yang Digunakan China untuk Covid-19

Mengenal Obat Carrimycin yang Digunakan China untuk Covid-19 – Obat Carrimycin menambah daftar panjang obat-obatan yang digunakan untuk pengobatan infeksi virus Corona (Covid-19). Setelah Remdesivir, Chloroquine, serta Lopinavir dan Ritonavir, China menggunakan obat Carrimycin untuk mengatasi Covid-19.

Rumah Sakit Youan di Beijing telah memulai penelitian terkait penggunaan Carrimycin. Studi fase 4 sudah dipublikasikan di Clinicaltrials.gov pada 27 Februari lalu.

Peneliti melihat kemanjuran dan keamanan Carrimycin untuk Covid-19 dengan menguji efektivitasnya pada 520 pasien yang tersebar di sejumlah rumah sakit di China. Pasien ini berada pada rentang usia 18-70 tahun dengan gejala ringan, sedang, dan berat.

Tercatat sebanyak tujuh uji klinis mengenai chloroquine terdaftar di Chinese Clinical Trial Registry. Uji klinis ini bertujuan untuk melihat apakah chloroquine dapat mengobati Covid-19 atau tidak.

Terdapat sejumlah uji klinis pada kombinasi Poker 88 Online lopinavir dan ritonavir, kombinasi obat untuk HIV. Temuan awal menyatakan, obat ini tidak terlalu efektif. Namun, para peneliti masih memerlukan uji klinis yang lebih besar untuk melihat reaksi dan efektivitas.

Sementara itu, obat flu Jepang favipiravir dan avigan tidak masuk dalam daftar uji klinis WHO. Penelitian dari University of Minnesota juga melihat efektivitas chloroquine untuk mencegah infeksi virus corona. Para peneliti melakukan uji coba obat-obatan yang sudah ada untuk mengobati infeksi virus corona (Covid-19).

Obat-obatan yang diteliti itu meliputi remdesivir untuk Ebola, kombinasi obat HIV lopinavir dan ritonafir, serta obat malaria chloroquine. Uji klinis obat-obatan ini masuk dalam daftar yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan sejumlah temuan yang menyatakan obat-obatan tersebut memiliki potensi mengobati Covid-19. Sebelumnya, penelitian ini dilakukan terpisah dan pada skala yang kecil.

Obat flu Jepang favipiravir dan avigan tidak masuk

Peneliti akan melihat penurunan gejala berupa demam, radang paru, dan keberadaan virus di tubuh. Profesor Yiguang Wang yang mengembangkan obat ini dipercaya menjadi pemimpin penelitian ini. Pemerintah China ikut membiayai penelitian ini.

Hingga saat ini, peneliti masih menganalisis efektivitas obat Carrimycin untuk Covid-19. Hasil penelitian diperkirakan keluar dalam beberapa pekan ke depan.

Dikutip dari Live Science, hingga akhir pekan lalu, tercatat terdapat 86 uji klinis perawatan Covid-19. Uji klinis itu bertujuan untuk melihat reaksi obat pada pasien positif infeksi virus corona.

Jika uji klinis menunjukkan hasil yang memuaskan pada pasien, maka obat-obatan itu dapat direkomendasikan dan digunakan secara luas untuk mengobati Covid-19.

Terdapat lima uji klinis besar yang dilakukan untuk meneliti remdesivir, obat Ebola yang dikembangkan Gilead Sciences. Temuan awal menunjukkan, antivirus remdesivir ini menghambat replikasi virus.

Uji klinis akan melihat efektivitas dan keamanan obat untuk digunakan secara luas. Ada kemungkinan obat ini dapat merusak hati.

“Remdesivir memang memiliki potensi, tetapi masih terlalu dini untuk mengetahui apakah ini akan menjadi pengobatan yang efektif yang dapat digunakan secara luas atau tidak,” kata ahli virus dari Kent University Jeremy Rossman, dikutip dari odiseacosmica.com Post.

Carrimycin merupakan obat yang baru disetujui oleh badan pengawas produk medis China pada Juni 2019 lalu. Obat ini dikembangkan oleh tim yang dikepalai Profesor Yiguang Wang dari Institute of Medicinal Biotechnology bersama Shenyang Tonglian Group Co. Ltd. China memegang hak kekayaan intelektual obat ini.

Carrimycin dibuat untuk mengobati infeksi saluran pernapasan atas. Obat ini memiliki sifat antibakteri yang kuat. Para ahli di China lantas mencoba menggunakan obat ini untuk pasien positif virus corona.